OBSERVASI MATA IE
(Bentuk Lahan Bentukan Asal Proses Pelarutan)
A. Dasar Teori
Beberapa
syarat sebagai akibat dari proses pelarutan Bentuk lahan bentukan asal proses
pelarutan, yakni
sebagai berikut:
Ø Terdapat batuan yang mudah
larut (batugamping dan dolomit)
Ø Batu gamping dengan kemurnian
tinggi
Ø Mempunyai lapisan batuan yang
tebal
Ø Terdapat banyak diaklas
(retakan)
Ø Pada daerah tropis basah
Pada kondisi demikian batu gamping akan mudah
mengalami pelarutan oleh air yang mengalir yang akhirnya membentuk topografi
karst. Kenampakan topografi karst ini sangat spesifik, baik yang ada
dipermukaan bumi maupun yang ada dibawah tanah.
Kondisi iklim mencakup ketersediaan curah hujan
yang sedang hingga lebat yang bersamaan dengan temperatur yang tinggi. Kondisi
semacam ini menyebabkan pelarutan dapat berlangsung secara intensif.
Adanya vegetasi yang dapat membantu pelapukan
solusional dan menyebabkan perkembangan karst. Vegetasi menyediakan bahan
organic yang membentuk humus dan bersama-sama dengan respirasi akar tanaman
dapat menimbulkan tingkat konsentrasi karbondioksida dalam tanah sekitar 30%.
Difusi CO2 ini kedalam air melalui seluruh tanah membantu
meningkatkan intensitas pelarutan yang tinggi (Faniran dan Jeje, 1983)
Karstifikasi adalah proses kerja oleh air terutama secara
kimiawi, meskipun secara mekanik pula yang menghasilkan kenampakan-kenampakan
topografi karst (Ritter, 1979). Katalisator yang penting dalam pelarutan itu
adalah air hujan dan karbondioksida. Karbondioksida (CO2) larut di
dalam air membentuk asam karbonat (H2CO3) yang bereaksi
dengan kalsium karbonat (CaCO3) membentuk kalsium bikarbonat yang merupakan
larutan berair.
CaCO3 + CO2
+ H2O " Ca (HCO3)2
Bentuk lahan karst dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian,
yakni bentuklahan negatif dan bentuk lahan positif.
Bentuk lahan negatif terdiri dari:
Ø Doline
Ø Uvala
Ø Polje
Ø Blind
Ø Valley
Sedangkan bentuklahan positif terdiri dari:
Ø Kygelkarst
Ø turmkarst.
Pada materi observasii kita kali ini kita akan
membahas sedikit tentang bentuk lahan negatif, yaitu dolin.
Doline merupakan suatu istilah yang mempunyai banyak sinonim
antara lain:
Ø Sink
Ø Sinkhole
Ø Cockpit
Ø blue hole
Ø swallow hole
Ø cenote
Doline adalah suatu ledokan atau lobang yang berbentuk corong pada
batugamping dengan diameter hingga 1 km dan kedalamannya dari beberapa meter
hingga ratusan meter (Monroe 1970)
Berdassarkan genesisnya (Faniran dan Jeje,
1983)mengklasiffikasikan Dolin menjadi 4
yaitu:
Ø Doline reruntuhan
Ø Doline solusi
Ø Doline terban
Ø Doline
alluvial
B. Tujuan Observasi
Observasi ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui
tentang bentuk serta proses yang menyebabkan terbentuknya bentuk lahan proses
pelarutan, disini mahasiswa dapat terjun langsung kkelapangan dengan melihat
salah satu bentuk lahan tersebut yang berupa Dolin.
C. Mekanisme Observasi
1.
Dalam satu ruang Mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok
yang terdiri dari 10-15 orang.
2.
Sebelum mendaki perbukitan mahasiswa diberi arahan dan
bimbingan oleh dosen pembimbing
3.
Kemudian mahasiswa mulai mendaki perbukitan dengan tuuntunan
dari guru pembimbing dan juga beberapa orang mahasiswa senior
4.
Mahasiswa mengamati bentuk serta mengukur kedalaman Doline dengan meteran.
D. Hasil Observasi
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan
dilapangan dapat disimpulkan bahwa Doline yang terdapat di kawasan mata ie memiliki lebar
sekitar 10 m dengan kedalaman lebih kurang 16,2 m. Disini saya
tidak dapat melihat dengan jelas dasar dari doline tersebut karena bentuknya sangat curam, dan
juga keadaan saat itu sangat licin. Sehingga kami diberi batasan-batasan tertentu
Berdasarkan penjelasan dari dosen pembimbing doline yang terdapat di
kawasan mata ie tersebut terbentuk akibat gerusan air pada batuan kapur yang
mengakibatkan terbentuknya lubang/ledok pada batuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar